Wednesday, July 25, 2007

Filing Cabinet atau Scanner ?

Map dokumen anda sebagian ada di filing cabinet. Tapi berhubung filing cabinet sudah penuh, map dokumen yang lain memenuhi sebagian besar meja kerja anda yang hanya disisakan sedikit ruang untuk taruh gelas. Aneka pernik-pernik kecil oleh-oleh dari teman yang ke luar negeripun akhirnya masuk ke box bekas sepatu, karena tidak ada tempat untuk memajang ini itu. Belum cukup di atas meja, di kolong meja ada sederet map-map dokumen yang jadi tempat menopangkan kaki, untungnya anda tidak terlalu tinggi, ya. Ah gimana kalau orangnya jangkung pasti susah mengatur kaki ketika duduk di kursi anda. Di meja anda, kemanapun anda menghadap, depan belakang, atas ataupun bawah, semua adalah map dokumen dengan segala merek; Bambi, Bantex, Bindex, apa lagi ? Dan anda tidak jadi pesan filing cabinet ke manager karena tidak ada kavling sedikit saja buat meletakkan filing cabinet baru.

Ini baru problem penyimpanan dokumen. Belum lagi kalau anda ingin mencari surat-surat, Purchase Order, Kontrak atau dokumen yang lain. Di tumpukan yang mana yaaa ? Surat itu tahun berapa ,yaaa ? Siapa nama customernya, yaa ? Nomornya berapa, ya ? Pun setelah tahu data-data itu, anda juga akan kesulitan mencari karena bisa jadi dokumen yang anda cari terselip di folder yang salah.

Kalaupun anda tetap senang dengan hal-hal demikian, anda telah menemukan comfort zone di kantor anda sekarang ini. Tapi saya yakin kesenangan anda tidak bertahan lama. Apalagi setelah sepatu baru anda jadi gepeng gara-gara terjepit tumpukan dokumen kontrak yang tebal-tebal itu. Anda tidak jadi nonton di 21Setiabudi di suatu sore, padahal anda sudah janjian sama teman di milist yang baru anda ikut, gara-gara anda harus mencari dokumen yang nyelip entah di mana untuk tender besok pagi. Asma andapun kambuh. Semua jadi berantakan karena hidup dan mati anda bersama tumpukan dokumen.

Kalau mau improve, rasanya hidup anda akan kembali menyenangkan. Map-map lama bisa anda masukkan ke dalam kerdus, tapi seandainya anda butuh, anda tinggal search di komputer anda. Map-map dokumen di atas meja dan di kolong meja berangsur-angsur pindah tempat. Meja kerja anda bisa lebih lega dan bisa pasang foto pacar atau foto keluarga anda. Kemudian kegiatan submit CV di JobsDb mulai anda hentikan.

Sedikit improve, anda cuma butuh satu scanner dokumen agar semua dokumen kertas anda dapat diubah ke format digital. Anda bisa pilih format pdf ataupun dokumen Office. Anda tinggal membuat folder-folder di komputer sesuai dengan folder dokumen kertas anda. Hasil scan dapat anda pindahken ke folder yang sesuai. Jadi misalnya, dokumen Purchase Order yang sudah ditandatangani Board of Directors dapat anda cari dengan cepat, secepat mencari Dokumen kontrak, Invoice atau dokumen lainnya. Tinggal ketik apa yang akan anda cari, tekan tombol search, lalu muncullah semua dokumen yang mengandung kata-kata yang anda ketikkan.

Demikian juga dengan kartu nama.Sebelum kartu nama kolega anda hilang, ada baiknya kartu nama itu anda scan dan datanya dapat diubah ke bentuk Excel ataupun bisa dimasukkan ke Outlook ataupun Outlook Express. Jadi kalau anda harus membuat surat undangan atau surat ucapan selamat tahun baru untuk kolega anda tinggal buat mail merge saja. Tidak perlu input satu-satu. Format kartu nama biasanya yang standar, kalau kartu nama kolega anda terlalu kreatif, biasanya diperlukan proses verifikasi.

Jadi pilih mana ? Pesan filing cabinet baru yang sudah jelas-jelas perlu tempat yang besar, atau beli scanner dan meja kerja anda bersih dari tumpukan dokumen ?

Bagaimana Memilih Scanner yang Sesuai ?

Apakah Komputer Saya Perlu di-Up-Grade ?

Apakah ini yang namanya Managemen Dokumen ?

Lanjut di posting yad.:D

PEnulis Favorit Masa Saya Remaja

Kemana Leila ?
Katanya sih, dia sekarang jadi reporter di Tempo. Saya sudah nggak pernah lagi baca tulisannya., karna saya tidak langganan majalah itu. Sempat beritanya saya dengar ketika ada sinetron Dunia Tanpa Koma. Tapi karena kesibukan ini itu, maka saya sama sekali tidak nonton sinetron yang ditulis olehnya. Kadang-kadang saya ingin juga kejutan kecil, seperti di Kompas Minggu beberapa minggu yll ada tulisan tentang Linda Hoemar, sosok santun yang ketika SMA selalu memakai kaos kaki panjang menutupi betisnya dan tetap pakai rok melebihi lutut, di saat teman-teman yang lain memotong pendek rok mereka. Kapan, ya Leila Chudori, sang reporter itu diwawancara di Kompas juga?

Saya mengenal, dalam tanda petik, Leila Shalika Chudori melalui tulisan-tulisannya yang begitu mempersona masa remaja saya. Kalau remaja sekarang mengenal
Rachmania Arunita dengan chicklit Eiffel I'm in Love, tahun 80an ada Leila Chudori yang aktif menulis di majalah anak-anak dan remaja.

Meski sama-sama di Jakarta, saya nggak pernah ketemu Leila, tapi saya tahu dia mulai menulis kelas lima SD. Ketika SMP tulisannya banyak dimuat di Kawanku. Malah di majalah Kawanku ada halaman khusus buat tanya jawab dengan dia. Dari situ saya tau kalau cita-citanya adalah menjadi dokter. Pengarang favoritnya Arswendo Atmowiloto dan Djokolelono.Leilapun rajin latihan karate.

Kemudian setelah masuk SMA dia aktif menulis di majalah Gadis. Kadang menulis cerpen, cerbung dan sekali-kali ada novelletnya yang jadi sisipan majalah remaja itu. Leila bertutur dengan bahasa Indonesia yang baik, segar dan kadang jenaka. Menurut saya, tokoh Aku atau pemeran utama di tulisannya adalah gambaran tentang sosok dirinya. Sosok remaja tangguh, pintar, riang, baik hati, punya kelompok yang kompak dengannya dan juga punya saingan sombong dan judes yang di akhir cerita jadi teman atau loser.

Leila tambah memukau saya ketika dia ikut semacam camp di Canada. Dia menulis artikel pengalamannya itu dalam beberapa seri di majalah Gadis. Pengalamannya semakin lengkap ketika dia bercerita tentang Pangeran Charles yang datang ke camp tersebut. Sebagai gadis kecil,melihat apa yang diraih Leila di usianya, membuat saya mengidolakan dia.Semuanya saya tahu dari membaca.Lebih duapuluh tahun berlalu. Apa yang saya baca ketika kecil masih mengendap di sela-sela memori-memori lain di otak saya, tiba-tiba pop-up begitu saja mengalir seperti baru kemarin saya membeli majalah Gadis di atas metromini S76 atau di terminal Blok M sepulang sekolah.

Ketika saya ketika lulus SMA,saya mulai kehilangan teman satu satu. Ada yang masuk perguruan tinggi negeri, ada yang swasta, ada yang ke luar negeri, ada yang jadi preman di Blok M, ada pula yang nikah dengan pacarnya. Ketika Leila lulus SMA, saya seperti adik kelas yang dilupakan. Dia pasti sibuk ingin meraih cita-cita jadi dokter. Atau mungkin dia punya back-up cita-cita yang lain. Saya kehilangan Leila seperti saya kehilangan teman-teman yang lain. Leilapun tidak lagi menulis di Gadis.

Setelah Leila, ada satu penulis remaja favorit saya waktu itu . Namanya Oriza Sativa. Hampir tiap terbitan majalah Gadis memuat tulisan segar menawan hati yang ending-nya nggak pernah diduga. Oriza cerita tentang romansa gali Jogja, orang-orang bertatoo yang jadi sasaran tembak di pertengahan 80an. Oriza cerita tentang lelaki yang ditinggal mati tunangannya. Oriza punya banyak cerita yang terasa membekas di hati saya.

Sayangnya, Oriza hanya sempat mampir sebentar di Gadis, karena ada yang lebih sayang dengannya. Pada suatu ketika, Oriza yang kuliah dan kost di Jogja sakit dan tidak tertolong lagi. Kisah hidupnya hampir sama dengan kisah-kisah cerpen yang sering ditulis olehnya. Dia pergi ketika perlahan sedang menapaki tangga kehidupan. Belum sampai puncak, Oriza mati muda.

Selain Leila dan Oriza yang waktu itu 'gue banget', sesungguhnya pengarang wanita yang begitu ingin saya mengumpulkan semua karyanya adalah Nurhayati Srihardini, atau NH Dini. Siapa yang tidak tahu beliau ? Saya baca buku NH Dini berjudul Pada Sebuah Kapal waktu kelas 2 SMP.

Kalau kita ke Gramedia, novel-novel NH Dini masuk dalam katagori 'Sastra'. Yah, dia bukan hanya penulis, dia memang sastrawati yang menurut saya belum ada tandingannya di Indonesia. NH Dini menulis seperti orang sedang curhat. Dari masa muda hingga kini, dia masih konsisten menulis dan menerbitkan kisah fiksinya. Pada seri kenangan yang terbit tahun 2007 ini, dia sangat terbuka bercerita tentang keluarganya. Kadang, di kala mungkin saya bertemu dengannya, ingin saya tanya apa benar ada sebagian atau seluruh kisah Sri, Rina atau juga Hiroko yang jadi pemeran utama di bukunya adalah cerita kehidupannya sendiri. Apakah kisah di La Grande Borne adalah benar-benar kisah hidupnya.

Di bukunya, saya menemukan kegetiran hidup seorang wanita yang senantiasa berusaha tegar, luluh oleh kelembutan hati orang lain yang bukan pasangan resminya. Wanita di tangan NH Dini bukannya sosok superwoman yang nggak butuh laki-laki. Ibu Dini begitu pandai berkata-kata dalam tulisannya, dia tahu bagaimana menyusun kalimat sehingga adegan mesra tidak perlu ditulis detail, yang acap memberi kesan murahan. Dia punya cara yang elegan. Mudah-mudahan Ibu Dini dikaruniai usia yang panjang, yang memungkinkan dia kembali menulis kisah sespektakuler Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko ataupun La Barka.

Salam saya buat Leila dan Bu Dini. Semoga Oriza istirahat dengan damai di sisi-Nya.