Wednesday, April 11, 2007

The Late Talker

Ibu-ibu itu paling senang kalo ngomongin anak-anaknya. Udah bisa bicara, udah bisa nyanyi, udah bisa baca, makan gak disuapin, minum susu sendiri, hebat deh. Sementara teman-teman cerita hal demikian, saya juga cerita. Saya bilang, anak gue udah dua setengah tahun tapi baru bisa ngomong bapak doang. Any idea biar bisa ngomong ?
Teman-teman terdiam sesaat, lalu kasih ide. Lu ajak ngobrol dong ! Periksa tuh siapa tau autis !

Orang tua mana yang ga cemas kalau umur segitu belum bisa ngomong. Pertama, pastinya saya tanya dokternya. Dokter Marseno sih tenang-tenang aja setelah meriksa anak saya. Gak pa pa, emang belum waktunya aja, ajak aja ngomong terus meski dia belum bisa nyautin. Lama-lama juga bisa karna ngomong ga bisa dipaksa dan tiap anak beda-beda perkembangannya, kata Pak Dokter sambil tersenyum.

Sama dengan anak-anak yang lain, anak saya juga senang bermain. Kalau saya dan suami lagi ngobrol, dia ikut memperhatikan siapa yang sedang bicara, serius sekali. Dia bisa tertawa-tawa dengan riang tapi dia juga bisa serius di depan laptop seolah-olah sedang melakukan coding. Matanya yang besar dan bulat segera melihat ke orang yang pegang kamera, dan ketika Ketika ada kamera mengarah padanya, dia segera tersenyum. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya kecuali eh …eh…eh…sambil menunjuk sesuatu yang dia mau.

Yah… tapi kan menurut buku-buku acuan, satu tahun udah mulai bisa bicara. Sekian bulan udah bisa ngomong sekian kata. Dua tahun udah bisa nyanyi-nyanyi. Tiga tahun kosa katanya udah semakin banyak . Tapi anak saya… ??

Saya cari-cari info tempat-tempat terapi bicara. Pertama pergi ke Rumah Sakit Islam di Cempaka Putih. Ada sih tempat terapi di sana, cuman kok jauh amat dari Joglo. Ngobrol-ngobrol sama Tedi yang anaknya juga belum bisa bicara, dia bilang kalo terapi di Pela. Daripada ke CPP mendingan ke Pela, lebih dekat dan daerahnya lebih familiar.

Pertama kali datang anak saya diobservasi dulu. Dikasih mainan, disuruh susun-susun balok. Hasilnya dikasih tau kalau kemampuan anak saya masih di bawah standar dan harus dilakukan terapi bicara dan terapi okupasi. Terapi bicara dan okupasi masing-masing 30 menit. Optimalnya dilakukan setiap hari.

Cuma sebulan anak saya terapi di sana. Anak saya marah-marah karena disuruh ngikutin terapisnya berbicara. Saya juga nggak boleh masuk, padahal saya mau tahu diapain aja sih anak gue secara di terapi kan cuma setengah jam, sisanya di rumah bisa diajarin ini itu yang sejalan dengan kegiatan di tempat terapi. Tapi kok ibunya gak boleh masuk ? Sesekali saya dengar terapis bicara keras…hehe..semakin keras dia bicara, semakin nggak mau anak saya buka mulut. Dia lebih suka ikutan terapi okupasi karena banyak bermain-mainnya. Ada banyak permainan yang juga kemudian saya beli biar buat latihan di rumah.

Tapi saya lihat kok nggak efektif amat terapi di sana.Belum bisa bicara itu sama aja sama sakit panas, dua-duanya simptom, gejala yang keliatan. Dokter akan kasih obat yang berbeda untuk penyakit yang beda, meski yang tampak adalah anak sakit panas. Ibu terapis wicara memperlakukan semua anak yang ikutan terapi dengan perlakukan yang sama, meski latar belakang mereka ikutan terapi beda-beda. Nah hal demikian yang saya kurang berkenan di tempat terapi itu tentunya dengan tidak mengurangi rasa hormat dan prihatin saya kepada anak-anak yang menderita keterbelakangan.

Beberapa ada yang bilang kalau anak saya kurang interaksi dengan orang lain, babysitternya terlalu pendiam. Hmm..mungkin ya kurang interaksi. Akhirnya saya dan suami datang ke Kelompok Bermain padahal sudah lewat waktu pendaftaran masuk. Untungnya masih ada tersedia tempat. Anak saya lalu masuk Kelompok Bermain. Selain itu juga saya konsultasi dengan dokter Sofyan yang praktek di belakang Sarinah.

Awalnya, semua guru (ada 3 guru di satu kelas) tidak ada yang ngerti anak saya ngomong apa-apa. Tapi hebatnya, lama-lama anak saya mulai bisa mengucapkan apa yang dia mau. Awalnya cuma saya yang ngerti. Sekarang, Alhamdulillah segala doa dan usaha kami dijawab oleh Allah. kalau anak saya terlalu banyak ngomong dan saya pingin bilang,"psssttt… jangan terlalu banyak ngomong"…. Upss perkataan itu nggak jadi saya ucapkan.. saya langsung ingat betapa dulu cemas gara-gara dia belum bisa bicara, sekarang kok lagi seneng-senengnya bicara disuruh diam. He hehehe….

Terus … apa masalahnya sampai dia belum bisa ngomong waktu itu ? Yaa… belum waktunya aja kali. Mungkin juga otot-otot mulutnya belum siap untuk melakukan aktifitas bicara.Waktu itu saya latih dia tiup lilin, makan permen loly, permainan tiup-tiup kertas, mencong-mencongin mulut ke kiri ke kanan, tiup peluit jadi seperti tukang parkir, juga saya belikan suling.

Hasilnya tidak terlihat keesokan hari. Dibutuhkan kesabaran, kontinuitas, selalu mengkoreksi apa yang belum sempurna diucapkan, juga peluk cium yang hangat dari kedua orang tua.

2 comments:

lisa said...

Hai mbak Ningsih...
Salam kenal....
numpang tanya anaknya mulai diketahui sulit bicara umur berapa?
kemudian akhirnya bisa bicara umur berapa? jadinya diterapi berapa lama? kemudian di rumah mbak coba terapi sendiri nggak? Eye contactnya lemah nggak?
Baca blog mbak sama spt kisah saya,
anak saya baru 1, umur 20 bln cuma bisa bilang papa, mama, pegi, nggak
dan eye contactnya sedikit.
Need your advice, pls thks
lisa-amadeusmanis@gmail.com

Fachry-Afif said...

Dear Mbak Lisa,
Maaf sekali saya baru email Mbak sekarang. Terus terang saya bikin blog di banyak tempat jadi nggak pernah lihat-lihat lagi blog yang lama. Ini juga login pakai account yang lain :)

Gimana kabar anak mbak ? Apa masih perlu sharing pengalaman dari saya ? Saya gak bisa kasih advis, bisanya sharing pengalaman aja 